Fitria Hariyati: 50 Besar Hasil Karya Artikel Bakti Pancasila

Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Pada Masa Pandemi Covid 19

Fitria Hariyati, S.Pd., M.Pd.

Guru SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta

Lebih lengkapnya baca, http://ditpsd.kemdikbud.go.id/buku/kategori/50-besar-hasil-karya-artikel-bakti-pancasila

Internalisasi nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dilakukan secara terstruktur, terarah dan terintegrasi. Berdasarkan masing-masing sila pada Pancasila, internalisasi nilai Pancasila kepada peserta didik SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta diterapkan sebagai berikut :

  1. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa

Kepada seluruh peserta didik, sekolah memberikan buku amal yaumiyah yang harus diisi dibawah pengawasan dan pantauan  langsung orang tua. Disinilah peran orang tua dalam menanamkan sikap religius dan intregritas kepada anak diperlukan. Orang tua merupakan guru terdekat putra-putrinya. Orang tua merupakan figure dan contoh keseharian putra-putrinya.

Do’a ketika bangun tidur, adab setelah bangun tidur, sholat Subuh, sholat Dhuha hingga do’a menjelang tidur setiap peserta didik harus dilakukan dan selanjutnya ditulis secara rinci pada buku amal yaumiyah.

  • Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Dalam buku amal yaumiyah, peserta didik SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta diminta untuk melaporkan kegiatan yang bermanfaat, saling membantu dan tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.

 Misalnya, anak diajak untuk bekerja bakti bersama keluarga membersihkan rumah, berkebun, merawat hewan piaraan, dan mencuci kendaraan, termasuk perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS. Di rumah, anakpun bisa bermain bersama kakak atau adiknya serta anak-anak tetangga terdekat tanpa pilih-pilih.

Mereka bisa bermain sepeda bersama, olah raga bersama dan mengerjakan tugas sekolah bersama-sama pula. Selain kegiatan yang disebutkan di atas, orang tua bisa mengajak anaknya untuk membantu tetangga atau orang lain yang terdampak  Covid 19 dengan memberikan bantuan atau santunan.

  • Sila ketiga, Persatuan Indonesia

Orang tua bisa menanamkan nilai-nilai nasionalis dengan mengajak anak-anaknya cinta terhadap tanah air dan bangsa Indonesia dengan cara hidup rukun dengan tetangga.

Contohnya, anak diajak kerja bakti dan gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, menggunakan dan membeli barang-barang produksi dalam negeri, atau perilaku dan kebiasanaan lain yang mampu menumbuhkan rasa nasionalisme.

Pengaruh tatanan kehidupan normal baru bagi masyarakat sangat beragam. Ada yang terkena PHK, pedagang di pasar atau pemilik toko omset hariannya turun, bahkan ada pula yang tidak mendapatkan pemasukan sedikitpun. Hal ini mendorong masyarakat untuk beralih profesi menjadi pedagang online dan pedagang dadakan.

  • Sila keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Penanaman nilai-nilai Pancasila sila keempat dalam keluarga dapat dilakukan dengan hal-hal yang sederhana. Musyawarah dalam penentuan posisi pot bunga di ruang tamu, saling bertukar pendapat dalam memilih dan menentukan makanan pesan antar melalui jasa online, atau musyawarah mengenai kegiatan bersama apa yang akan dilakukan esok hari merupakan contoh yang bisa diterapkan dalam mengamalkan sila keempat.

  • Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pembagian tugas sesuai kemampuan dan porsi masing-masing anggota keluarga harus diterapkan dengan baik. Dalam buku amal yaumiyah bagi peserta didik SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, orang tua diminta memberikan tugas harian membantu orang tua secara rutin.

Tentu, tugas harian tersebut disesuaikan dengan kemampuan putra-putrinya. Dengan demikian, seorang kakak akan memiliki tugas harian yang lebih dominan dari adiknya. Orang tua diminta untuk memberikan penjelasan mengenai hal tersebut, sehingga akan dipahami rasa keadilan diantara putra-putrinya.       

SD Muhammadiyah 1 Solo