IMPLEMENTASI PENDIDIKAN
AL ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN
DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA DI SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH
Ahmad Syaifuddin
SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta
Email : unknown.as86@gmail.com
ABSTRAK
Perubahan zaman dan teknologi yang semakin berkembang pesat serta diiringi dengan banyak problematikanya terkait karakter manusianya, maka perlu adanya penguatan pendidikan terhadap karakter, karena karakter yang baik merupakan modal bagi manusia untuk menjadi bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan aman dan sejahtera. Pendidikan di Muhammadiyah sangat memperthatikan terhadap karakter sejak awal berdirinya melalui Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan yaitu dapat menanamkan keislaman dan ideologi Muhammadiyah guna menjadikan anak didik yang cerdas, berakhlak mulia dan menerapkan nilai keislamannya pada kehidupan sehari-hari. Penelitian mengambil tempat penelitian di SD Muhammadiyah 1 Ketelan dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan antara lain metode wawancara dengan penelitian sekaligus hasil dari wawancara dan observasi di lapangan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan filosofis, fenomenologis, dan psikologis. Selanjutnya metode analisis dilakukan dengan diskriptif dengan menggunakan metode induktif.
Penelitian menunjukkan bahwa karakter merupakan hal yang penting dalam implementasi pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Karakter ideal yang diinginkan dalam pada kegiatan pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan adalah karakter agama, cinta ilmu, mampu bekerja sama, dan peduli. Pada dua sekolah yang diteliti banyak menunjukkan hal-hal sebgai berikut : (1) pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan dengan nilai-nilai karakter di dalamnya, (2) Nilai -nilai karakter yang sudah terintegrasi dalam pembelajaran maupun program-program penunjang, (3) Kesamaan tujuan antara pengajaran pendidikan karakter dengan pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan pada dua sekolah Muhammadiyah di kota Surkarta ini dengan tujuan Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan secara umum, (4) Adanya Monitoring pada setiap kegiatan Al Islam dan Kemuhammadiyahan, (5) Dan juga adanya gagasan, penataan, manajemen, pengembangan, penataan dan pengorganisasian dalam mengelola masalah menjadi perubahan yang lebih baik dalam implementasiannya. Berdasarkan hasil temuan di lapangan dan tela’ah dokumen yang ada, peneliti dapat menyimpulkan bahwa implementasi pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalm membentuk karakter telah berjalan secara alami, karena sistem pendidikan di Muhammadiyah itu telah ada dan sudah pada tahap penerapan, jauh sebelum pendidikan karakter diwajibkan oleh pemerintah..
Kata Kunci : Al Islam dan Kemuhammadiyahan,Pendidikan Karakter, dan Sekolah Muhammadiyah.
ABSTRACT
Changes in times and technology are growing rapidly and are accompanied by many problems related to human character, it is necessary to strengthen education for character, because good character is the capital for humans to become a nation capable of creating a safe and prosperous life. Education at Muhammadiyah pays great attention to character since its inception through Al Islam and Kemuhammadiyahan Education, which is to instill Islam and Muhammadiyah ideology in order to make students who are smart, have noble character and apply Islamic values to everyday life. The research took place at Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Elementary School and Muhammadiyah 16 Surakarta Elementary School.
This research is a qualitative descriptive field research. Collection data methods used include interview methods with research as well as results from interviews and field observations. The research was conducted with a philosophical, phenomenological, and psychological approach. Furthermore, the analysis method is carried out descriptively using the inductive method.
Research shows that character is important in the implementation of Al Islam and Muhammadiyah education. The ideal character desired in Al Islam and Kemuhammadiyahan learning activities is religious character, love of knowledge, able to work together, and care. In the two schools studied, many showed the following: (1) learning Al Islam and Kemuhammadiyahan with character values in it, (2) Character values that have been integrated in learning and supporting programs, (3) The similarity of objectives between teaching character education and learning Al Islam and Kemuhammadiyahan at two Muhammadiyah schools in the city of Surakarta with the aim of Al Islam and Kemuhammadiyahan Education in general, (4) Monitoring on every Al Islam and Kemuhammadiyahan activity, (5) , structuring, management, development, structuring and organizing in managing problems into changes for the better in their implementation. Based on the findings in the field and a review of existing documents, the researcher can conclude that the implementation of Al Islam and Kemuhammadiyahan education in shaping character has run naturally, because the education system in Muhammadiyah already exists and is already at the implementation stage, long before character education is required. by the government.
Key words: Al Islam and Kemuhammadiyahan, Character Education, And
MuhammadiyahSchool
- PENDAHULUAN
Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan besar yaitu desentralisasi atau otonomi daerah telah dimulai, dan era globalisasi penuh akan terjadi pada tahun 2020. Kedua tantangan tersebut merupakan ujian berat yang harus dilalui dan dipersiapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Globalisasi adalah proses menjadikan sesuatu (objek atau perilaku) sebagai karakteristik setiap orang di dunia ini tanpa dibatasi oleh geografi. Globalisasi memberikan ruang bagi seluruh manusia di muka bumi untuk terhubung secara langsung atau tidak langsung satu sama lain, terlepas dari apakah mereka memiliki batas atau tidak, sehingga menghambat kelangsungan hubungan tersebut.
Contoh dari beberapa efek globalisasi adalah dalam kehidupan manusia, setiap orang menginginkan sesuatu secara instan. Dari perspektif lain, kendala yang terpenting adalah arus informasi yang begitu cepat dan tidak terbatas sehingga sulit bagi banyak generasi mendatang untuk menyaring dampak globalisasi, dan pada akhirnya banyak generasi yang akan datang jatuh ke dalam pengaruh buruk globalisasi.[1]
Sebuah hal yang tidak dapat kita tolak saat ini adalah cepatnya laju dunia. Kita berada dalam era teknologi informasi tanpa batas. Satu sisi kita mudah mengakses informasi apapun, namun di sisi lainnya, hal itu menghambat proses interaksi dalam keluarga maupun lingkungan sekitar. Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat, termasuk orangtua yang menjadi wali murid. Mereka banyak mengeluhkan perilaku putra-putrinya yang larut dalam Facebook, Instagram, WhatsApp, youtube, tik tok bahkan menunjukkan sikap yang berlebihan dalam beramain game online. Saat diingatkan, mereka agresif dan temperamental serta bersikap acuh terhadap orangtua dan hal di sekitarnya.
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, anak-anak sebagian dari mereka memiliki kepribadian yang hanya mengikuti dengan kondisi disekitarnya yang mana pada saat berasamaan orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya, akan tetapi ketika para orang tua berkerja, anak-anak merasa bebas tanpa ada pendampingan maupun pengawasannya, sehingga anak melakukan apa yang diinginkan sesuai lingkungan sekitarnya yang mana banyak dampak negatif dengan ditemani perangkat elektroniknya. Ini adalah kondisi yang perlu menjadi perhatian dikarenakan ada beberapa hal negatif dengan sistem internet yang cepat pada saat ini. Bagaimana tidak, mereka memegang alat komunikasi canggih sebagai tren kekinian, ciri anak zaman now, tanpa pengawasan.[2]Anak-anak menjadi terlalu bersemangat dalam ber-gadged tanpa menyadarinya, sehingga mengarah pada suasana hati yang lebih buruk, lebih banyak kecemasan, tingkat iritabilitas yang lebih tinggi dan perilaku yang kurang terpuji. Tentu hal ini akan berdampak negatif pada tumbuh kembang mereka. Hakekatnya anak-anak belajar dari lingkungan mereka dalam berbagai tahap. Tahap psikologi anak adalah, untuk menentukan arah dan tujuan ketika dewasa nanti. Pada tahap ini, yang paling utama, mengembangkan regulasi emosional. Apabila keliru dalam melakukan metode pengembangannya maka dimungkinkan akan ada banyak kerugian dan dampak negatif yang dapat ditimbulkan.
Fenomena yang terjadi banyaknya menghadapai problematika seperti pemamparan di atas baik dalam maupun luar pendidikan yang kadang mejadikan kita akan berfikir panjang terhadap perilaku anak-anak, sekarang banyak yang mengatakan kids zaman now. Mereka terkesan tidak ada pendampingan akhlak maupun perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Hakekatnya karakter sendiri merupakan ruh bagi seseorang itu sendiri. Diperlukan yang namanya pemantauan yang berkesinambunagan, pendidikan agama Islam menjadi solusi guna mendampingi karakter anak saat ini agar karakter mereka sesuai arah dan tujuannya, serta mengurang dampak negatif pada situasi zaman saat ini.
Pada dasarnya setiap manusia dapat menghindari dari problematika-problematika di atas asal ada landasan dasar yaitu karakter mereka yang sudah menjadi kebiasaan sesuai jaran Islam, hakekatnya manusia memiliki potensi untuk berkarakter sesuai dengan fitrah penciptaan manusia saat dilahirkan, akan tetapi dalam kehidupannya kemudian memerlukan proses panjang pembentukan karakter melalui pengasuhan dan pendidikan sejak usia dini. Oleh karena itu, pendidikan karakter yang mulai ditanamkan sejak dini sebagai usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik, perlu ditanamkan terus menerus/berkelanjutan. Thomas Lickona menjelaskan bahwa karakter terdiri atas tiga bagian yang saling terkait, yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan perilaku bermoral (moral behavior). Artinya, manusia yang berkarakter adalah individu yang mengetahui tentang kebaikan (knowing the good), menginginkan dan mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (acting the good).
Perubahan zaman dan teknologi yang semakin berkembang serta diiringi dengan banyak problematikanya terkait karakter manusianya, maka perlu adanya penguatan pendidikan terhadap karakter, karena karakter yang baik merupakan modal bagi manusia untuk menjadi bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan aman dan sejahtera. Sebab salah satu instrumen penting yang mempengaruhi maju mundurnya suatu bangsa adalah karakter atau akhlak mereka. Penyair terkenal Ahmad Syauqi mengatakan bahwa bangsa itu hanya bisa bertahan selama mereka masih memiliki akhlak atau karakter yang baik, bila akhlak telah lenyap dari mereka maka mereka akan lenyap pula. Dari situ kita sudah mendapatkan gambaran betapa pentingnya pendidikan karakter bagi manusia.
Sejak berdirinya hingga saat ini Muhammadiyah banyak melakukan kontribusi terhadap pendidikan di Indonesia, terlebih pada masalah karakter anak bangsa. Salah satu yang menjadi keunggulan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dapat memadukan unsur pendidikan agama dan pendidikan formil yang dinamakan kurikulum Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Tujuan yang ingin dicapai dengan adanya kurikulum Al Islam dan Kemuhammadiyahan yaitu dapat menanamkan keislaman dan ideologi Muhammadiyah guna menjadikan anak didik yang cerdas, berakhlak mulia dan menerapkan nilai keislamannya pada kehidupan sehari-hari.
Al Islam dan Kemuhammadiyahan dapat dijadikan pedoman untuk membentuk karakter peserta didik melalui kebiasaan, teladan dan komunikasi antara sekolah dengan wali siswa. Sebagai bagian dari institusi pendidikan Muhammadiyah tentunya dalam hal pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan terdapat beberapa ciri khusus yang dapat menciptakan peran terbaik bagi setiap siswa. Selain itu, penyelenggaraan pendidikan juga mengikuti kebijakan pemerintah yang berlaku. Ketika pemerintah menghendaki penerapan nilai-nilai pendidikan karakter, maka Al Islam dan Kemuhammadiyahan masuk di dalamnya.
Berdasarkan pemaparan di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk Karakter Siswa di Sekolah dasar Muhammadiyah (Studi Kasus di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta). Karena dengan ciri khasnya bahwa Al Islam dan Kemuhammadiyahan dapat membentuk karakter siswa yang sesuai Al Qur’an dan As Sunnah serta cita-cita Muhammadiyah dan Negara. Sedangkan rumusan masalahnya sebagai berikut: 1). Bagaimana proses implementasi pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk Karakter siswa di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta?, 2). Apa kendala dan solusi pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk Karakter siswa di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta?
- METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian sangatlah penting, karena metode tersebut merupakan cara yang akan digunakan demi keberhasilan penelitian. Metode penelitian yang merupakan langkah-langkah operasional dan ilmiah yang dilakukan oleh seorang peneliti dalam mencari jawaban atas rumusan masalah penelitian yang telah dibuatnya. Berikut beberapa hal yang menjadi bagian dari metodologi penelitian di dalam penelitian ini:
- Jenis Penelitian
Dilihat dan ditinjau dari aspek penelitian ini beserta aspek tempatnya termasuk penelitian field reseach, karena data yang akan diambil maupun analisinya menggunakan kualitatif. Prosedur yang akan ditampilkan dalam penelitian ini adalah data diskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang beserta perilaku yang diamati.[3]
- Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan multi disipliner (multiple approach). Ada beberapa pendekatan yang akan digunakan, yaitu filosofis, fenomenologis, dan psikologis.[4] Pendekatan metode filosofis adalah proses penelitian yang serius, metodis, mendalam, evaluasi dan kritis. Pendekatan metode fenomenologis adalah metode analisis berdasarkan penampakan yang dapat diamati dan dikenali. Kristensen percaya bahwa metode ini merupakan pelengkap metode historis dan filosofis. Pendekatan metode psikologi adalah metode penelitian yang didasarkan pada teori psikologi. Cara ini memiliki dua prinsip, yaitu “lunak” dan “keras”. “Lembut” berarti menoleransi kebenaran yang diakui secara sosial, sedangkan “keras” berarti setiap pernyataan kebenaran yang diyakini harus diuji secara ilmiah.
- Metode pengumpulan data dan analisis data
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi pustaka. Analisis data adalah kegiatan mengorganisir data. Data yang dikumpulkan dapat berupa catatan lapangan dan komentar peneliti. Gambar, foto, dokumen, laporan, biografi, artikel, dll. Setelah mengumpulkan data, langkah selanjutnya adalah menganalisis data untuk menarik kesimpulan dan menggunakan induksi untuk menganalisis data secara deskriptif. Induksi adalah membiarkan masalah muncul dari data atau membuatnya mudah dijelaskan.[5]
- HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
- Implementasi Pendidikan Al Islam Dan Kemuhammadiyahan Dalam Membentuk Karakter Siswa di Sekolah Dasar Muhammadiyah Kota Surakarta.
Implementasi melibatkan inovasi untuk mengurangi perbedaan antara kenyataan aktual dan harapan aktual. Implementasi adalah proses mengubah perilaku ke arah yang disarankan oleh inovasi bertahap, mengatasi hambatan pembangunan dari waktu ke waktu. Sementara itu, menurut Fulan, implementasi adalah proses mempraktikkan ide, rencana, atau aktivitas baru agar orang lain bisa mencapai atau mengharapkan perubahan.
Model implementasi kurikulum menurut Ornstein dan hunkins ada lima model yaitu ; 1) mengatasi perlawanan terhadap perubahan, 2) pengembangan organisasi, 3) adopsi berbasis, 4) pengorganisasian pada setiap bagian maupun unit, 5) perubahan Pendidikan.[6]
Aspek kurikulum menjadi titik bidik revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah, karena kurikulum menjadi jantung sebagai perubahan dalam Pendidikan. Secara normatif dan historis bahwa Pendidikan di Muhammadiyah Pendidikan berciri khas keagamaan yang memiliki kurikulum dengan ciri khusus yaitu Al Islam dan Kemuhammadiyan,sebgaia ciri khusus dalam kurikulum,[7] Al Islam dan Kemuhammadiyan yang diterapkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan dikelola oleh masing-masing pimpinan dalam struktur organisasi Muhammadiyah, dari Pusat hingga ke Ranting. Sekolah-sekolah tersebut merupakan bagian dari Amal Usaha warga Muhammadiyah. Meski secara teknis di lapangan diserahkan kepada masing-masing pimpinan, namun secara keseluruhan dikendalikan oleh sebuah Majelis, yang bernama Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah.
Pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah yaitu pendidikan yang sempurna menurut gagasan awal pendiri muhammadiyah adalah melahirkan individu yang “berkarakter utuh” menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spiritual serta dunia dan akhirat. Bagi K.H.Ahmad Dahlan pendidkan karakter yang utuh merupakan hal yang tak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Inilah yang menjadi alasan K.H.Ahmad Dahlan berupaya melakukan rintisan pendidikan integralistik untuk membentuk karakter umat yang unggul. Indikator umat yang unggul (Khoira Ummah) sebagaimana produk pendidikan Muhammadiyah terwujudnya aspek kesalehan yang dalam pratiknya membentuk karakter diri, karakter sosial dan karater bangsa.
Bukti Muhammadiyah mengkonstruksi pendidikan karakter adalah diamanatkan pada Rapat Kerja Nasional Pendidikan Muhammadiyah yang diikuti tiga lembaga Penyelenggara pendidikan dalam Muhammadiyah yakni Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, Majelis Pendidikan Tinggi dan ‘Aisyiyah dalam Rakernas merumuskan tujuan pendidikan Muhammadiyah sebagai berikut yaitu membentuk manusia Muslim yang beriman, bertaqwa, berakhlaq mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, berdisiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air, memejukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dan beramal menuju terwujudnya masyarakat yang utama, adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.[8]
Sejak awal SD Muhammadiyah 1 Ketelan, telah menjadikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai langkah pembentukan karakter serta sebagai ruh dari semua kegiatan di sekolah. Seluruh materi Al Islam dan Kemuhammadiyahan didesain sedemikian rupa untuk dapat dijadikan sebagai pola pembentukan karakter pelajar Muhammadiyah. Keseriusan dalam membentuk karakter siswa melalui Al Islam dan Kemuhammadiyahan mejadi prioritas yang sangat penting untuk dilaksanakan di sekolah ini.
SD Muhammadiyah 16 Surakarta ini membangun sikap untuk siswanya dari awal dengan kondisi masyarakat menengah yang berkerjsama dengan pimpinan cabang Karangasem kota Surakarta. Hakekatnya Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan terdapat nilai karakter yang bersumber dari olah hati, antara lain beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik. Karena mengembangkan karakter tersebut sesuai dengan ruh Al Islam dan Kemuhammadiyahan.
Di samping pembelajaran inti di kelas materi ciri khusus yang dikemas dalam rumpun Al Islam dan Kemuhammadiyahan di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta juga menangani secara serius dalam pengimplementasikannya mengenai program-program pembentukan karakter, baik peserta didik maupun guru dan karyawan, sebagaimana tercantum dalam rancangan program tahunan sebagai berikut; Pesantren Ramadhan/Daarul Arqam, Shalat Dhuha, Shalat Jum’at, Shalat Dzuhur Berjama’ah, Baca Tulis Al Quran, Tahfidzul Quran, Menjenguk Teman Sakit dan Takziyah, E-Infaq/sedekah jum’at, Hizbul Wathan, Menyanyikan lagu nasional saat pertama dan terakhir pembelajaran.
Pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi guru bertujuan untuk menciptakan guru yang berkarakter. Sehingga ketika guru SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta memiliki karakter yang baik, maka ketika mengajar dalam pembelajaran akan memberikan teladan yang baik bagi peserta didik. Kegiatannya antara lain : Darul Arqam, Kultum pagi dan Tadarus Al Quran, Pengajian dan Arisan Rutin Bulanan.
- Implementasi Pendidikan Al Islam Dan Kemuhammadiyahan Dalam Membentuk Karakter Siswa di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta.
Pelaksanaan pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta dengan meminjam istilah Thomas Lickona yang mengandung tiga aspek yaitu, kesadaran moral, perasaan moral dan perilaku moral. Kesadaran moral ditanamkan melalui pembelajaran di kelas, sedangkan kesadaran moral dan perilaku moral ditanamkan di dalam dan di luar kelas.
Pada dua sekolah di atas 3 komponen yang diutarakan oleh Thomas Lickona sudah berjalan beriringan dengan program pembentukan karakter yang dikemas dalam kegiatan-kegiatan Al Islam dan Kemuhammadiyahan, sehingga muncul karakter yang diinginkan.
Ciri-ciri peserta didik yang memiliki karakter melalui proses pendidikan antara lain: beragama, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatifitas, kemandirian, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, persahabatan dan komunikasi, cinta perdamaian, Suka membaca, perlindungan lingkungan, kepedulian sosial dan tanggung jawab.[9]
Dalam kurun waktu yang lama, dalam semua materi ciri yang terdapat di Sekolah Muhammadiyah, biasanya karakter siswa yang digambarkan dalam teori di atas selalu ada. Karakter ini diajarkan dan melalui pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Implementasi kurikulum 2013 menuntut munculnya peran-peran tersebut di atas, yang semakin memperkuat eksistensi Pendidikan di Muhammadiyah. Untuk sekolah Muhammadiyah (Muhammadiyah) hanya perlu menekankan pada pembelajaran karakter saat melaksanakan pembelajaran tersebut.
Mengacu pada model keempat dan kelima teori implementasi kurikulum pendidikan, bahwa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan pada sekolah Muhammadiyah adalah kurikulum khusus yang tidak pernah ditinggalkan. Sekolah Muhammadiyah, apapun formatnya, harus mengajarkan pelajaran itu. Secara filosofis, fenomenologis, dan psikologis, pendidikan dalam Al-Islam dan Kemuhammadiyahan semacam ini mengacu pada tujuan didirikannya Muhammadiyah, yaitu memurnikan ajaran Islam yang bercampur dengan ajaran non-Islam. Dengan adanya prinsip nilai pendidikan Muhammadiyah, saya berharap mahasiswa dapat memahami Islam dengan benar dan memiliki motivasi untuk membentuk masyarakat Islam yang benar-benar sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW sebagaimana tertuang dalam “Anggaran Dasar” Muhammadiyah dan Muqaddimah.
Uraian diatas mejelaskan bahwa Al Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi motor utama penggerak dalam menerapkan karakter para peserta didik. Teori tersebut sangat dipegang teguh oleh kedua sekolah tersebut sehingga terealisasi dalam menerapkannya.
Pendidikan karakter yang ditanamkan kepada peserta didik menjadi perhatian yang besar guru dalam mengimplementasikannya pada pembelajaran inti dimulai dari kegiatan pendahuluan, inti dan penutup serta program-program pendukung, ini adanya kesesuaian dengan teori tentang model implementasi ketiga, keempat dan kelima. Keberadaan sistem pendidikan karakter memang menjadi arah pengajaran mereka. Berikut hasil wawancara lapangan tentang berbagai proses pembelajaran Al Islam dan kemuhammadiyahan di sekolah.
Model implementasi kurikulum yang kelima sangatlah cocok dengan pembahasan pada program-program yang ada di bab 3, sehingga program kegiatan Al Islam dan Kemuhammadiyahan yang dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta, untuk mewujudkan karakter bangsa berdasarkan pemikiran Muhammadiyah, adapun program-program pendukung dari kedua sekolah tersebut diantaranya:
| SEKOLAH | KEGIATAN | KARAKTER |
| SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta | Pagi hari dan sebelum pulang sekolah, para guru menyambut Anda di gerbang sekolah, para guru dan staf akan menyapa para siswa dan membawa kegembiraan yang luar biasa. | Disiplin, santun dan penuh kasih sayang |
| Doa dan membaca alqur’an dipimpin salah seorang siswa secara bergantian. | Tanggung jawab, keberanian, kemandirian | |
| Sebelum pembelajaran dimulai semua menyanyikan lagu kebangsaan dan hormat bendera nasional untuk memberi penghormatan. | Nasionalis | |
| Penggunaan M1 smart card (untuk absensi, kantin, perpustakaan dan UKS) | Jujur, sabar, disiplin, gemar membaca, rasa ingin tau | |
| Shalat Dhuha, Dzuhur dan Ashar | Religius, tanggung jawab | |
| Mengunjungi warga sekolah yang sakit. | Empati | |
| e-Infaq setiap hari dan kencleng LAZIZMU untuk orang yang membutuhkan. | Peduli Sosial | |
| Pengajian keluarga besar sekolah dengan pimpinan daerah maupun cabang setempat | Religious, komunikasi | |
| Piket membersihkan kelas secara bergantian | Peduli lingkungan | |
| 20 ektrakurikuler | Kreatif | |
| SD Muhammadiyah 16 Surakarta | Sambutan guru di gerbang sekolah pada waku pagi hari, di mana peserta didik akan disambut dengan penuh suka cita oleh para guru dan karyawan. | Disiplin, santun dan penuh kasih sayang |
| Shalat Dhuha dan Dzuhur | Religius dan Tanggung Jawab | |
| Menjenguk warga sekolah yang sakit maupun kebutuhan yang lain | Empati | |
| Infaq Jum’at | Peduli sosial | |
| Pengajian sekolah maupun keluarga besar sekolah dengan pimpinan daerah maupun cabang setempat | Religious, komunikasi |
.
Kegiatan-kegiatan di atas hanya berdasarkan pada kegiatan Al Islam dan Kemuhammadiyahan ,sedangkan masih banyak kegiatan lainnya, dan pasti akan mengarah pada penguatan pendidikan karakter yang berbasis pada nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan.
Faktor-faktor yang menjadi kendala maupun menghambat pelaksanaan pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta secara garis besar yang peneliti analisis adalah sebagai berikut :
Penerapan di saat sela-sela kegiatan yang menunjang pendidikan karakter kepada peserta didik sudah dilaksanakan namun belum maksimal, sehingga masih ada peserta didik yang belum tahu dan belum memaksimalkan nilai karakter didalamnya. Solusinya adalah dengan pemantauan melalui buku atau sejenisnya yang dapat menjadi kontroling di sekolah maupun dirumah.
Mengaktualisasikan dari nilai-nilai Al Islam dan Kemuhamadiyahan dalam membentuk karakter yang terbatas waktu. Waktu hanya terfokus pada segi kegiatan keagamaan saja. Solusinya adalah memberikan waktu yang sekiranya bisa dimasukkan dalam setiap kegiatan diluar kegiatan agama.
Pembiasaan karakter terhadap anak hanya berlangsung disekolah. Ketika kembali kerumah peserta didik terpapar kembali dengan budaya yang tidak sejalan dengan pendidikan karakter Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Solusinya adalah keteladanan karakter orang tua dapat menjadi solusi adanya kesinambungan antara sekolah dan rumah.
Kondisi masyarakat sekitar tempat tinggal peserta didik yang hanya besikap tidak ada kepedulian terhadap karakter anak. Solusinya adalah Komunikasi antar orang tua dan perangkat lingkungan guna menciptakan kondisi lingkungan yang dapat memberikan dampak positif terhadap karkater anak.
- PENUTUP
- Kesimpulan
Sesuai dengan kajian penelitian bahwa adanya koherensi antara teori, data lapangan dan analisisnya pada implementasi pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk karakter, maka peneliti menarik kesimpulan, yang didasarkan pada hasil observasi dan wawancara serta pengelohan data, maka diambil kesimpulan. Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan dalam membentuk karakter pada SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta sudah ada pada awal kegiatan pendidikan di sekolah tersebut serta dengan beberapa perubahan sesuai dengan situasi di lapangan baik dalam kegiatan inti maupun program penunjang. Karakter ideal yang muncul dan diinginkan dalam pada kegiatan pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta adalah karakter religius, cinta ilmu, mampu bekerja sama, dan peduli.
Kegiatan yang mendidik maupun program tambahan dalam rangka menunjang pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan di SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta dan SD Muhammadiyah 16 Surakarta, antara lain: Sambutan pagi dan sore sebelum pulangoleh para guru dan karyawan di pintu gerbang sekolah, shalat Dhuha, Dhuhur dan Ashar berjama’ah, kunjungan bagi warga sekolah yang sakit, e-Infaq peduli untuk yang membutuhkan, pengajian sekolah maupun keluarga, tadarus Al-Qur’an sebelum jam pertama dimulai dilanjutkan dengan tahfidz juz 30, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu nasional lainnya, serta hormat bendera saat jam pertama dan terakhir sebagai nendidikan Hizbul Wathan yang tercantum pada Kemuhammadiyahan,pelatihan pada ekstrakurikuler yang banyak memunculkan banyak nilai karakter religious maupun lainnya.
Pada setiap jenis kegiatan maupun sistem pendidikan pasti ada kendala yang dihadapi, adapun kendala dan solusi yang dihadapi dalam proses implementasinya antara lain, Sosialisasi dan penerapan karakter dan keterbatasan waktu dalam kegiatan Al Islam dan kemuhammadiyahan, solusinya adalah pemantauan melalui buku atau sejenisnya. Aktualisasi dari nilai-nilai Al Islam dan Kemuhamadiyahan dalam membentuk karakter yang terbatas waktu, solusinya adalah Memberikan waktu yang sekiranya bisa dimasukkan dalam setiap kegiatan diluar kegiatan agama. Pembiasaan karakter terhadap anak hanya berlangsung disekolah, solusinya adalah Keteladanan karakter orang tua dapat menjadi solusi adanya kesinambungan antara sekolah dan rumah.Kondisi ketidak pedulian masyarakat sekitar tempat tinggal peserta didik. Solusinya adalah Komunikasi antar orang tua dan perangkat lingkungan guna menciptakan kondisi lingkungan yang baik.
- Saran
Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan adalah ciri khas lembaga pendidikan Muhammadiyah. Melalui Pendidikan inilah, ideologi Muhammadiyah dapat ditanamkan. Kurikulum ciri khusus ini juga merupakan ajang pengkaderan bagi peserta didik yang belajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Oleh karena sudah semestinya pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan benar-benar diterapkan dengan baik di sekolah Muhammadiyah. Jika perlu bisa dilakukan tambahan- tambahan kegiatan yang lebih inovatif dalam rangka menarik minat peserta didik untuk memperdalam materi pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan di Lembaga pendidikanMuhammadiyah.
Karenanya penelitian ini dapat dilanjutkan dengan tema yang hampir sama, Mungkin fokusnya bisa pada berbagai fenomena yang terjadi dalam organisasi Muhammadiyah yang banyak terdapat di masyarakat, misalnya IPM, IRM, IMM, Aisiyah, dan lain sebagainya bila perlu amal usaha lainya yang dimiliki oleh Persyarikatan tentu yang diketengahkan adalah mekanisme kerja dan pelaksana tugas melalui uji keselarasan dalam upaya pembentukan karakter bangsa melalui pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohamad. 2009. Menabur Benih Sekolah Unggul di Muhammadiyah, Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.\
Ali, Mohamad. 2012. Menyemai Sekolah Bertaraf Internasional, Yogyakarta: Gramasurya
Lexy. J. Moleong. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.
Peter Connolly (ed). 2002. Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta: LkiS
Pusat Kurikulum dan Perbukuan. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kemendikbud-Balitbang.
Sukmadinata, Nana Syaodiyah. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
Thomas Lickona, Scerenco, dan Lockwood, sebagaimana dikutip oleh Muchlas Samani dan Hariyanto, dalam: Muchlas Samani dan Hariyanto. 2012. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Jakarta: Remaja Rosda Karya.
Yusuf, M. Yunan, Yusron Razak, Sudarnoto Abdul Hakim (Ed.). 2005. Ensiklopedi Muhammadiyah,. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Astuti, Sugi. 2018. Implementasi Pendidikan Karakter Zaman Now. Dalam: https://satelitpost.com/redaksiana/opini/implementasi-pendidikan-karakter-zaman-now. Diakses pada tanggal 2 Juli 2019.
Setiawan, Andi. 2017. Peran Penting Pendidikan Karakter bagi “Kids Zaman Now”. Dalam:https://www.kompasiana.com/andisetiawan96/5a39b338dd0fa8517e6da102/peran-penting-pendidikan-karakter-bagi-kids-zaman-now?page=1. Diakses pada tanggal 2 Juli 2019.
[1] Andi Setiawan, Peran Penting Pendidikan Karakter bagi Kids Zaman Now, dalam: (https://www.kompasiana.com/andisetiawan/peran-penting-pendidikan-karakter-bagi-kids-zaman-now ), 2017, diakses pada tanggal 2 Juli 2019.
[2] Sugi Astuti, Implementasi Pendidikan Karakter Zaman Now, dalam: https://satelitpost.com/redaksiana/opini/implementasi-pendidikan-karakter-zaman-now), 2018, Diakses pada tanggal 2 Juli 2019
[3] Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosda Karya, 2013). hlm. 3.
[4] Peter Connolly (ed), Aneka Pendekatan Studi Agama, (Yogyakarta: LKIS, 2002), hlm. 114 -201.
[5] Sukmadinata, Nana Syaodiyah, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 2010), hlm. 60
[6] Mohamad Ali, Menabur Benih Sekolah Unggul di Muhammadiyah, (Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah, 2009), hlm. 57.
[7] Mohamad Ali, Menyemai Sekolah Bertaraf Internasional, (Yogyakarta: Gramasurya, 2012), hlm. 141.
[8] M. Yunan Yusuf, Yusron Razak, Sudarnoto Abdul Hakim, dalam Ensiklopedi Muhammadiyah, ( PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005) hlm. 87
[9] Tim Penyusun, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter, (Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendiknas, 2011) hlm. 8.






