Jangan Biarkan Makna Hidup Berkurang Ketika Usia Bertambah

sdmuh1solo.sch.id – Bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti berkarya dan mengabdi. Memasuki masa pensiun justru dapat menjadi fase baru untuk memperbanyak syukur, menjaga kesehatan, memperluas manfaat, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan Soleh Amini dalam tausiah bertema “Menjadi Tua dengan Sehat, Sejahtera, Bahagia, dan Tetap Bermanfaat” di hadapan para pensiunan guru dan kepala sekolah di SD Muhammadiyah 1 Solo, Sabtu (29/8/2026).

Ia mengajak para lanjut usia untuk tidak memandang masa tua sebagai akhir dari pengabdian.

Menurut Soleh, menjadi tua merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindari manusia. Al-Qur’an dalam QS. Ar-Rum ayat 54 menggambarkan perjalanan manusia yang diciptakan dalam keadaan lemah, kemudian menjadi kuat, dan pada akhirnya kembali menjadi lemah serta beruban.

“Menjadi tua bukanlah pilihan. Kita boleh memilih sekolah, pekerjaan, atau tempat tinggal, tetapi kita tidak dapat memilih untuk tidak menjadi tua,” ujar Soleh.

Ia mengatakan rambut memutih, keriput, langkah yang melambat, dan berkurangnya tenaga tidak semestinya dipandang sebagai kegagalan. Justru, kesempatan mencapai usia lanjut patut disyukuri karena tidak semua orang memperoleh kesempatan tersebut.

Karena itu, Soleh mengingatkan agar seseorang tidak hanya memohon umur panjang, tetapi juga memohon usia yang penuh keberkahan.

“Tujuan kita bukan hanya menambah usia pada kehidupan, tetapi menambahkan kehidupan pada usia,” katanya.

Soleh menjelaskan masa pensiun memang dapat membawa perubahan psikologis, khususnya bagi guru dan kepala sekolah yang selama puluhan tahun terbiasa memiliki rutinitas, tanggung jawab, murid, serta lingkungan kerja.

Setelah pensiun, seseorang terkadang mempertanyakan kembali identitas dirinya. Namun, menurut dia, Islam tidak mengajarkan bahwa pensiun berarti berhenti memberikan manfaat.

“Pensiun dari pekerjaan bukan pensiun dari kehidupan, dan pensiun dari jabatan bukan pensiun dari pengabdian,” tuturnya.

Pengabdian, lanjut dia, dapat berpindah dari sekolah menuju keluarga dan masyarakat. Jika sebelumnya seorang guru mendidik murid di ruang kelas, setelah pensiun ia tetap dapat mendidik anak dan cucu melalui keteladanan.

“Jangan pernah mengatakan, ‘Saya sudah tidak berguna.’ Katakanlah, ‘Allah sedang memindahkan ladang pengabdian saya,” kata Soleh.

Untuk menjalani masa tua secara sehat, sejahtera, bahagia, dan tetap bermanfaat, Soleh menyampaikan lima hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, menjaga kesehatan tubuh. Ia mengingatkan bahwa tubuh merupakan amanah dari Allah SWT sehingga harus dirawat sesuai kemampuan. Aktivitas seperti berjalan kaki, senam, berkebun, melakukan pekerjaan rumah yang aman, tidur cukup, dan memeriksakan kesehatan secara berkala menjadi bagian dari ikhtiar.

Kedua, menjaga pola makan dan gaya hidup. Soleh mengutip QS. Al-A’raf ayat 31 yang memerintahkan manusia makan dan minum tetapi tidak berlebihan. Seiring bertambahnya usia, pola makan perlu semakin diperhatikan dengan mengurangi konsumsi berlebihan serta mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Ketiga, tidak membiarkan otak ikut pensiun. Menurut Soleh, usia lanjut bukan alasan untuk berhenti belajar. Membaca buku dan Al-Qur’an, mengikuti pengajian, berdiskusi, menulis, mempelajari teknologi, serta memahami perkembangan dunia anak dan cucu dapat menjaga pikiran tetap aktif.

“Pensiun boleh, tetapi belajar jangan pensiun,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut pengalaman para pensiunan guru dan kepala sekolah sebagai kekayaan yang sangat berharga. Pengalaman tersebut, menurut dia, perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Bapak-Ibu adalah perpustakaan hidup. Di dalam diri Bapak-Ibu tersimpan pengalaman mendidik, memimpin, menghadapi murid, membangun sekolah, menghadapi perubahan zaman, dan pengalaman perjuangan Muhammadiyah,” ujarnya.

Keempat, menjaga silaturahmi dan tidak mengisolasi diri. Soleh mendorong para lansia tetap bertemu sahabat, mengikuti pengajian, kegiatan Muhammadiyah, kegiatan sosial, olahraga bersama, maupun aktivitas kemasyarakatan lainnya.

Kelima, merawat jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa kebutuhan spiritual semakin penting ketika usia bertambah. Shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, bersedekah, bersilaturahmi, dan menghadiri majelis ilmu merupakan bagian dari upaya menjaga ketenteraman hati.

Ia mengutip QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

Soleh menekankan bahwa kebahagiaan pada masa tua tidak selalu identik dengan kondisi tanpa sakit ataupun kekayaan materi. Kebahagiaan lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang memaknai kehidupan dan mensyukuri nikmat yang masih diberikan Allah.

Ia mengajak para pensiunan untuk terus bertanya kepada diri sendiri apakah masih dapat mencintai dan dicintai, masih berguna bagi orang lain, masih memiliki tujuan hidup, serta masih dekat dengan Allah SWT.

“Jika jawabannya iya, insyaallah kita masih mempunyai alasan yang sangat kuat untuk bahagia,” katanya.

Menurut Soleh, pengalaman hidup para pendidik senior jangan sampai hilang seiring bertambahnya usia. Pengalaman mendidik, memimpin sekolah, menghadapi perubahan zaman, hingga perjalanan perjuangan di lingkungan Muhammadiyah merupakan warisan berharga yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Karena itu, ia mendorong para pensiunan untuk menceritakan pengalaman kepada anak dan cucu, menuliskannya, mengajarkannya, serta menjadikannya sebagai warisan kehidupan.

“Menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi tua dengan baik adalah pilihan,” ujarnya.

Ia menambahkan manusia memang tidak dapat menghentikan waktu maupun proses penuaan. Namun, manusia masih dapat menentukan bagaimana mengisi sisa usia dengan kebaikan.

“Kita tidak dapat menghentikan rambut menjadi putih, tetapi kita dapat membuat hati semakin bersih. Kita tidak dapat menghentikan tubuh menjadi lemah, tetapi kita dapat membuat iman semakin kuat,” kata Soleh.

Menutup tausiah, Soleh mengajak para pensiunan tidak menunggu usia tua untuk berbuat baik, tidak menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah, dan tidak menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.

Pesan tersebut diperkuat dengan pengingat QS. Al-‘Ashr mengenai manusia yang berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

“Jika Engkau panjangkan usia kami, panjangkan pula kebaikan kami. Jika Engkau kurangi kekuatan tubuh kami, jangan Engkau kurangi kekuatan iman kami,” ucapnya dalam doa penutup.

Dengan demikian, masa tua diharapkan bukan menjadi fase menunggu akhir kehidupan, melainkan kesempatan untuk memperbanyak amal, memperluas manfaat, memperbaiki hubungan dengan sesama, mewariskan ilmu, dan semakin mendekat kepada Allah SWT.

SD Muhammadiyah 1 Solo