Optimalisasi Sudut Baca Sekolah Sebagai Gerakan Literasi Dalam Menumbuhkan Minat Baca

Pelaksanaan gerakan literasi dilakukan melalui 3 tahapan, yaitu tahap pembiasaan; melakukan pagi literasi dan penataan lingkungan kaya literasi. 

Tahap pengembangan; kegiatan tindak lanjut dan kunjungan perpustakaan. 
Tahap pembelajaran; menggunakan strategi dalam kegiatan membaca. Kendala yang dihadapi yaitu minimnya buku bacaan, pembenahan sudut baca, dan siswa yang kurang lancar membaca. 
Upaya yang dilakukan yaitu berkordinasi dengan kepala sekolah untuk meningkatkan fasilitas literasi seperti pengadaan buku dan pembenahan sudut baca

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) diselenggarakan berdasarkan sembilan agenda prioritas(Nawacita), dilakukan dengan membudayakan kebiasaan membaca dan menulis. Hal inisesuai dengan amanat pada Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 5 yang berbunyi “Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakat”. 
Berdasar kan hal tersebut, Kementerian Pendidikandan Kebudayaan (Kemendikbud) mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)untuk menumbuhkan budi pekerti siswa agar tercipta budaya literasi di lingkungansekolah. Kemendikbud (2016:7) menjelaskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalahgerakan sosial kolaboratif dengan dukungan berbagai elemen pendidikan. Hal inimenunjukkan bahwa dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) melibatkan wargasekolah (siswa, guru, kepala sekolah, orang tua) dan masyarakat

Apa itu pojok baca? Pojok baca atau sudut baca merupakan salah satu media yang digunakan untuk menumbuhkan minat siswa dalam meningkatkan gerakan literasi sekolah. Pojok baca menjadi bagian dari ruang kelas yang diubah menjadi suasana berbeda, supaya para siswa bisa lebih nyaman untuk membaca dan untuk meningkatkan kemampuan literasi nya. Pembuatan pojok baca sangat bergantung dengan kreativitas dan inovasi guru.

SD Muhammadiyah 1 Solo