Budayakan Silaturahmi Kunci Sukses Dunia Akhirat

༻﷽༺💠════╗
Budayakan Silaturahmi
Kunci Sukses Dunia Akhirat
╚═°°༻°༺°°༻°°💠
Ihsan Saifuddin
08122592911

Silaturahmi Halalbihalal Keluarga Besar SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta (Ahad 13 April 2025)

Silaturahmi “Syawalan”
Sebagian kaum muslimin ada yang menamakan silaturahmi yang dilakukan di bulan syawal dengan istilah “Syawalan” atau ada juga yang mengistilahkan “Halalbihalal” Acara tersebut diselenggarakan pada bulan Syawal, setelah sebelumnya melakukan shiyam Ramadhan.

Makna filosofi halalbihalal yang diselenggarakan di bulan Syawal, lantaran usai melaksanakan shiyam Ramadhan, dengan melakukan shiyam dosa-dosa telah diampuni, insya Allah. Namun itu adalah dosa kepada Allah, adapun hak adami yaitu dosa kepada sesama diperlukan adanya pernyataan permintaan dan pemberian maaf. Untuk menyempurnakan penghapusan dosa sesama manusia, perlu adanya pengakuan dan permintaan maaf pada sesama manusia. Jelasnya, halalbihalal selain upaya penghapusan dosa adalah juga media silaturahmi

Silaturahmi sebagai bagian dari perintah agama yang sifatnya mutlak artinya, tata caranya tidak terikat dengan aturan tertentu, namun bersifat fleksibel. Pengamalan silaturahmi dapat juga disesuaikan dengan kearifan lokal asalkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat islam.

Sebagian masyarakat Indonesia membingkai silaturahmi dalam bentuk budaya halalbihalal. Meski kata “halal” adalah bahasa Arab, namun kata “halalbihalal” tidak terdapat dalam kamus bahasa Arab. Kata halalbihalal justru adanya di KBBI Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal ini karena memang halalbihalal itu produk budaya Indonesia.

Untuk memahami apa dan bagaimana halalbihalal dalam tinjauan islam, terlebih dahulu kita pahami dua pokok amalan islam. Pengamalan islam dibagi menjadi dua bagian global, yaitu ibadah dan mu’amalah. Ibadah yaitu hubungan hamba kepada Allah yang bersifat muqayyad (terikat tatacaranya) sedangkan mu’amalah bersifat mutlak (tidak terikat tatacaranya, selama tidak melanggar aturan syari’at)

Silaturahmi tentu termasuk ranah mu’amalah, yaitu hubungan baik antar sesama manusia yang tatacaranya fleksibel.

Pelaksanaan silaturahmi sebagaimana pelaksanaan thalabul ilmi, sebagaimana sudah dimaklumi bahwa tatacara thalabul ilmi tentu tidak terikat. Thalabul ilmi dapat dilakukan harian, pekanan, bulanan atau momen dan even tertentu. Dapat juga dengan wasilah madrasah, kampus atau berbagai sarana lain baik formal atau non formal.

Silaturahmi & kearifan lokal
Tidak sedikit kearifan lokal Jawa yang relevan dengan spirit islam. Sebut saja misalnya piwulang Jawa yang bunyinya “Ngumpulke balung pisah atau ngurupke obor kepaten Kedua piwulang tersebut di atas menunjuk pada makna yang sama, yaitu pentingnya menjalin hubungan silaturahmi dalam konteks persaudaraan

Kepedulian terhadap silaturahmi dalam dunia bisnispun tidak lepas dari perhatian orang Jawa. Karena itulah dalam kearifan lokal Jawa di dunia bisnis, juga ada istilah Tuna sathak bathi sanak artinya, rugi sedikit uang, tapi dapat keuntungan persaudaraan.

Piwulang Jawa yang sangat menjunjung tinggi spirit silaturahmi, dapat disimpulkan dan dipahami dari penamaan suguhan yang berupa minuman. Di tengah masyarakat Jawa ada jenis minuman untuk disuguhkan tamu namanya “wedang” Konon, wedang termasuk tembung “Jarwadhosok” yang artinya ngawe kadang. “Ngawe” artinya melambaikan tangan yang merupakan isyarat agar mendekat. Sedangkan “kadang” artinya sedulur atau saudara. Jelasnya, suguhan minuman yang namanya wedang adalah isyarat ajakan merajut persaudaraan.

Termasuk juga bukti bahwa piwulang Jawa itu selaras dengan spirit silaturahmi, dalam menerima tamu, masyarakat Jawa berusaha menerapkan prinsip “lima uh” yaitu: gupuh, aruh, lungguh, suguh, imbuh.

Menguatkan bukti lain yang juga melengkapi bahwa piwulang Jawa itu selaras dengan spirit silaturahmi, yaitu adanya wejangan yang berupa parikan yang bunyinya : “Theklek guwak neng kalen” Parikan tersebut dapat diartikan dengan tinimbang golek aluwung balen. Ketika terpaksa terjadi perceraian suami isteri, mereka masih mengupayakan daripada mencari yang lain, lebih baik balik ke pasangan semula

Melengkapi perluasan bahwa piwulang Jawa itu menjunjung tinggi prinsip silaturahmi, pada acara ular-ular pengantin sering disampaikan pesan dan doa “Mugi penganten sarimbit tansah atut runtut reruntungan sih kinasihan pindha mimi amintuna nganti kaken-kaken ninen-ninen”

Pesan tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya, “Semoga kedua mempelai selalu akrab, seiya sekata, hidup rukun harmonis bagaikan hewan mimi amintuna hingga akhir hayat”

Termasuk bukti lain yang menguatkan bahwa piwulang Jawa menjunjung tinggi spirit silaturahmi yaitu adanya budaya halalbihalal. Inti halalbihahal adalah menyambung silaturahmi dalam bentuk budaya.

Silaturahmi itu sukses dunia
Di antara sekian banyak deretan sukses dunia yang dapat diraih dengan silaturahmi, salah satunya bahwa dengan silaturahmi akan diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya. Berkenaan dengan pernyataan tersebut terdapat riwayat demikian: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari : 5985 dan Muslim : 2557)

Dalam riwayat lain disebutkan juga dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

تَعَلَّموا من أنسابِكم ما تَصِلُونَ به أرحامَكم فإن صلةَ الرحِمِ مَحَبَّةٌ في الأهلِ، مَثْرَاةٌ في المالِ، مَنْسَأَةٌ في الأَثَرِ

“Belajarlah tentang nasab kalian yang dengannya akan tersambung silaturahim di antara kalian. Sesungguhnya dalam silaturahim akan menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, melapangkan harta dan memanjangkan usia” (Tirmidzi 1979)

Sebagian di antara bukti bahwa silaturahmi itu penunjang sukses dunia, gencarnya iklan atau reklame di berbagai media sebenarnya itu adalah realasisai silaturahmi. Dengan gencarnya iklan, omset perusahan akan makin melejit, Itu bukti silaturahmi itu sukses dunia.

Kemampuan seseorang melakukan lobying yang dengannya menjadikan sebab sukses agendanya, itupun tak lepas dari ranah silaturahmi. Karena itu, yakinlah kita, bahwa silaturahmi menjadi sebab sukses dunia bahkan dunia akhirat, insya Allah biidznillah

Itulah sebagian kecil di antara keutamaan silaturahmi di dunia, yang dengannya menjadi sebab murah rejeki dan panjang umur. Adapun manfaat lainnya tentu masih banyak.

Silaturahmi itu sukses akhirat
Di antara contoh sukses akhirat dengan silaturahim, bahwa silaturahmi dapat menjadi wasilah pembuka jalan menuju surga. Berdasarkan kesimpulkan dari ayat 20/23 Surat Ar Ra’d, silaturahmi termasuk salah satu di antara tujuh amal pembuka pintu surga. Berkenaan dengan menyabung silaturahmi sebagai bagian dari kunci pembuka jalan menuju surga, Allah Ta’ala berfirman :

وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّهُمۡ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلۡحِسَابِ

“Orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, yakni menyambung silaturahmi…”_
(Surat Ar-Ra’d : 21)

Setelah menjelaskan sebagai amalan yang diutamakan, di pengunjung ayat 22, Allah janjikan balasan kebaikan di akhirat bagi penyambung silaturahmi, Allah ta’ala berfirman :

أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat tempat kesudahan yang baik (surga) di hari akhirat kelak” (Ar-Ra’d : 22)

Pada ayat selanjutnya, dijelaskan balasan surga bagi orang-orang yang menyambung silaturahmi. Secara definitif adalah surga Adn, bahkan masuk surga bersama nenek moyangnya. Allah berfirman:

جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ

“(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu” (Ar-Ra’d: 23)

Berkenaan dengan keberadaan orang yang masuk surga, nantinya masuk surga bisa bersama keluarga, bisa juga masuk surga bersama sesama hamba yang bertakwa. Karena itulah Allah menamai salah satu surat dalam al qur’an dengan nama surat Az-Zumar, arti Az- Zumar adalah berombongan. Surat tersebut dinamai Az Zumar karena sebagian isinya mengisahkan keberadaan orang bertakwa nantinya akan masuk surga berombongan. Allah Ta’ala berfirman:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan…” (Az-zumar: [39] 73)

Silaturahmi yang dengannya menjadi wasilah kemudahan meraih jannah, dipertegas juga dalam hadits nabi shallallahu alaihi wa sallam. Menurut penuturan seorang sahabat nabi, pesan nabi agar menyambung silaturrahmi, menjadi pesan awal kedatangan beliau ke kota Madinah.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, terdapat sebuah riwayat dari Abdullah bin Salâm, dia berkata: “Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau karena ingin melihatnya. Ada yang mengatakan: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang, lalu akupun mendatanginya di tengah kerumunan massa untuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah Rasûlullâh, aku mengetahui bahwa dari wajahnya tercermin bukan wajah pembohong. Wejangan yang pertama kali beliau ucapkan adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوْا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan nyaman” (Riwayat Tirmidzi : 2485)

Jangan putus silaturahmi
Banyak faktor pemicu putusnya silaturahmi, terkadang masalah dunia, namun tak jarang juga masalah agama. Di antara faktor dunia yang paling banyak menjadi sebab putusnya silaturahmi adalah perkara warisan dan utang piutang.

Adapun penyebab putusnya silaturahmi karena faktor agama adalah serampangan dalam menerapkan doktrin Hijrul Mubtadi’ yaitu menghijrahi ahli bid’ah. Ahli bid’ah memang harus dijauhi tapi serampangan menuduh kelompok lain sebagai ahli bid’ah yang harus dihijrahi akan rawan terjatuh pada putusnya silaturahmi tanpa disadari.

Mari berhati-hati dari tergesa-gesa menuduh orang lain bukan pengikut sunnah hanya karena perbedaan khilafiyah. Mari renungi pesan Imam Ahmad bin Hambal, seorang ulama yang dikenal sangat kuat memegang prinsip-prinsip sunnah, beliau pernah berkata:

إخْرَاجُ النَّاسِ مِنَ السُّنَّةِ شَدِيْدٌ

“Bermudah-mudah mengeluarkan seseorang dari sunnah (menuduh bukan ahlussunnah) adalah perkara yang berat” [Diriwatkan oleh Abu Bakar bin Al-Khallal rahimahullah dengan sanad shahih dalam As-Sunnah 1/373, nomer 513]

Menjaga kehormatan sesama Muslim dari tuduhan yang tidak sepantasnya adalah juga manhaj ahlussunnah yang harus kita utamakan. Untuk itulah Umar ibn Abdul Aziz pernah mengatakan :

أدركنا السلف وهم لا يرون العبادة في الصوم ولا في الصلاة ولكن في الكف عن أعراض الناس

“Kami dapati para Salafush shalih terdahulu, mereka tidak menganggap ibadah hanya masalah puasa tidak pula hanya masalah sholat. Akan tetapi, menahan diri dari mengusik kehormatan orang lain adalah juga ibadah” (Tahrij Hadits Ihya’ Ulumiddin, Al Iraqy : 1745)

Putus silaturahmi itu ngeri
Kedudukan silaturahmi begitu mulia dalam ajaran islam, hingga karenanya orang yang memutuskan silaturahmi diancam dengan beragam kebinasaan, antara lain:

  1. Putus hubungan dgn Allah
    Allah mengancam akan memutus hubungan dengan hamba yang memutus silaturahmi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya silaturahmi dan betapa bahaya memutuskannya. Berkenaan dengan hal tersebut, nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda:

مَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

“…Barangsiapa menyambung silaturahmi, maka Aku akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa memutuskannya maka Aku akan memutuskan hubungan dengannya sama sekali” (Riwayat Abu Daud: 1444)

  1. Percepatan hukuman
    Memutus silaturahmi bukan perkara remeh, tapi sangat berat konsekuensinya. Pemutus silaturahmi telah diancam nabi dengan kerugian dunia sekaligus akhirat. Di dunia sengsara di akhirat masuk neraka. Itulah ancaman pemutus silaturahmi. Pemutus silaturahmi. diancam dengan hukuman yang disegerakan dunia dan akhirat. Dalam sebuah hadits, nabi shallallahu alaihi wasalam telah bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يُدَّخَرُ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang Allah percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat melebihi cepatnya hukuman bagi perbuatan zalim dan memutuskan silaturahmi” (HR Tirmidzi)

  1. Ditangguhkan pahalanya
    Termasuk hukuman bagi pemutus silaturahmi amalnya akan ditangguhkan hingga silaturahmi tersebut tersambung kembali. Nabi shallallahu alaihi wasalam telah bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ
كُلَّ خَمِيْسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ

“Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari Kamis malam Jum’at, akan tetapi tidak diterima amal ibadahnya orang yang memutuskan silaturahmi” (Riwayat Ahmad)

4 Terputus dari rahmat Allah
Sebenarnya rahmat Allah sangat banyak jumlahnya, akan tetapi jumlah rahmat Allah yang banyak tersebut terhalang bagi pemutus silaturahmi. Kepada mereka, Allah tidak akan menurunkan rahmat-Nya. Berkenaan dengan tidak akan diturunkannya rahmat bagi pemutus silaturahmi, Nabi bersabda demikian:

لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ
عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang memutuskan silaturahmi” (HR Muslim)

  1. Diancam masuk neraka
    Adapun ancaman paling berat bagi pemutus silaturahmi adalah tidak akan masuk surga. Hal ini dapat kita pahami dari sabda nabi yang ringkas dan tegas, beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi” (HR Bukhari dan Muslim)

Waspadalah, bahwa pemutus silaturahmi diancam neraka. Karena itulah jangan gampang-gampang memutuskan silaturahmi.

Wa shallallahu ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbih, wal hamdulillah Rabbil alamin

SD Muhammadiyah 1 Solo