sdmuh1solo.sch.id – Misteri menulis gampang akhirnya terpecahkan di pelatihan menulis atraktif dan konsolidasi media persyarikatan Solo yang disampaikan jurnalis senior Anas Syahirul Alim. Dia menyampaikan hal itu pada pelatihan yang digelar Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) bekerjasama dengan Majelis Pendidikan Muhammadiyah Pimpinan Daerah Kota Solo.
Acara dilaksanakan di Pusdiklat Darmo Tjahjono Perguruan Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (13/12/2023). Pada acara pelatihan yang diikuti 46 anggota staf Humas Amal Usaha Muhammadiyah di Solo itu Anas memberikan tips untuk menulis siaran pers yang memikat. Dia menjelaskan tulisan itu harus singkat, aktif dan deskriptif. Siaran pers jangan terlalu panjang. Letakkan informasi paling penting di awal. Hindari promosi berlebihan dan klaim yang tidak berdasarkan bukti-bukti. Langsung menuju sasaran dan tidak berbelit. “Hindari bahasa yang sulit dimengerti dan Hindari kesalahan ketik atau bahasa. Koreksi sebelum dikirim ke media,” ucap Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Solo ini.
Anas lantas memberikan tips lain untuk kelengkapan siaran pers, yakni menggunakan gunakan kop resmi institusi. Cantumkan nama orang yang bertanggung jawab atau kontak person. Misalnya: Ketua Panitia, Direktur, Sekretaris, Humas dan lain-lain. “Cantumkan nama dan nomor telepon yang bisa dihubungi wartawan. Latar belakang institusi/perorangan dan foto-foto,” katanya.
Dia lalu mengulas, “Jangan gunakan metafor atau kiasan. Jangan gunakan kata yang panjang jika ada padanan lebih pendek. Pangkas kata yang mubazir. Jangan gunakan bentuk pasif jika yang aktif bisa dipakai. Jangan gunakan kata asing, istilah ilmiah dan jargon jika ada padanannya dalam bahasa sehari-hari,” bebernya. Anas menjelaskan tentang lead atau kepala berita maksimal 24 kata. Lead harus pendek dan lugas, cepat dipahami.
Anas sudah malang melintang di dunia jurnalistik. Karirnya diawali saat menjadi jurnalis magang di Jawapos (1995-1996), jurnalis Forum Keadilan (1997-1999), jurnalis Radar Solo (1999-2001), Jurnalis Tempo (2001-2007), jurnalis Majalah Saudagar (2003-2007), jurnalis Joglosemar (2007-sekarang). Dia tidak sekadar memberikan teori, tapi juga memberikan contoh menulis. Dimulai dari membuat berita dengan piramida terbalik layaknya sebuah berita yang memuat 5W (what, when, where, dan who) hingga membuat berita utuh dengan melengkapi why dan how.
“Kriteria layak berita aktual, dampak, kedekatan, audiens, drama atau konflik, nama membuat berita atau keunikan,” jelasnya saat memaparkan nilai berita atau news value.






