

sdmuh1solo.sch.id – Kemampuan membaca peserta didik masih rendah apabila dibandingkan dengan negara lain.
Hasil survey dari PISA yang dikakukan oleh OECD untuk kemampuan baca, pada tahun 2000, skor Indonesia 371 dan mengalami peningkatan menjadi 382 pada tahun 2003.
Pada tahun 2006 skor 393, dan menjadi 402 pada tahun 2009, dan selanjutnya menurun menjadi 396 pada tahun 2012, dan menjadi 397 pada tahun 2015. Pada tahun 2018 skor kemampuan baca sebesar 371, dan merupakan skor kemampuan baca paling rendah.
Skor yang diperoleh Indonesia ini masih di bawah rata-rata skor sebesar 487. Peningkatan minat baca peserta didik sejak dini merupakan hal yang harus dilakukan agar kemampuan membaca peserta didik meningkat. Minat baca masyarakat termasuk peserta didik Indonesia masih rendah.
Budaya lisan atau tutur lebih digemari masyarakat dibandingkan dengan budaya membaca. Sebuah penelitian mengungkapkan membeli pulsa lebih dipentingkan peserta didik, apabila dibandingkan dengan membeli buku.
Berkomunikasi lewat HP lebih disukai peserta didik, apabila dibandingkan dengan kegiatan membaca danmenambahkan koleksi bukunya.
Selain itu, budaya membaca belum terbentuk pada diri peserta didik. Kegiatan membaca dilakukan peserta didik hanya apabila ada tugas dari guru.
Hanya sedikit peserta didik yang mau membaca secara sadar dan mandiri dengan tujuan agar pengetahuannya semakin luas.
Kondisi ini menjadi indikator bahwa minat baca peserta didik di Indonesia masih rendah. SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta beri solusi permasalahan di atas dengan menghadirkan buku baru di Perpustakaan. Salam literasi.





