Pimpinan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen dan PNF) periode Muktamar Muhammadiyah ke-48 di bawah kepemimpinan Didik Suhardi, Ph.D. mencurahkan perhatian dan mengeluarkan energi besar pada upaya peningkatan mutu sekolah maupun madrasah Muhammadiyah secara merata.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah dengan merevitalisasi Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah (Diksuspala) serta melaksanakan secara masif di seluruh pelosok Tanah Air. Mengapa di sebut revitalisasi? Sebab, ada tiga perbedaan mendasar pelaksanaan Diksuspala lama dengan Diksuspala model baru.
Perbedaan pertama, narasumber maupun fasilitator Diksuspala yang lama adalah pimpinan Majelis Dikdasmen, sedangkan Diksuspala baru narasumber maupun fasilitator merupakan kepala sekolah atau mantan kepala sekolah yang telah terbukti berhasil membesarkan dan menghidupkan sekolah Muhammadiyah.
Perbedaan kedua, Diksuspala lama selalu bertempat di Jakarta, sedangkan Diksuspala baru tempat atau lokasi dibagi ke dalam sejumlah region sehingga berpindah-pindah dari satu daerah/region ke region lain.
Diharapkan dengan terselenggaranya TOT Diksuspala ini, kualitas kepemimpinan di sekolah-sekolah Muhammadiyah akan semakin meningkat, siswanya terus meningkat, kualitasnya semakin hebat sehingga mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang beriman, berilmu, dan beramal saleh serta pemimpin-pemimpin hebat Indonesia Emas 2045.
TOT Diksuspala bertujuan membekali para peserta dengan kemampuan, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan dalam memotivasi, memfasilitasi, dan mendampingi sekolah Muhammadiyah untuk mencapai keunggulan dan kemajuan.






