sdmuh1solo.sch.id -Perundungan atau bullying tidak cukup diatasi dengan menegur pelaku dan meminta korban melupakan kejadian. Diperlukan kepedulian, pemahaman terhadap lingkungan anak, serta respons yang tepat agar anak merasa aman untuk bercerita dan mendapatkan pertolongan.
Pesan tersebut mengemuka dalam webinar bertema “Stop Bullying dengan Pendekatan Ekologis” bersama Prilya Shanty Andriani, M.Psi., dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Salah satu pesan yang membekas dari pemaparan narasumber adalah, “Perilaku anak adalah pesan.”
Kalimat tersebut mengingatkan bahwa perubahan perilaku anak bisa menjadi tanda adanya persoalan yang sedang dihadapi. Anak yang biasanya ceria kemudian menjadi pendiam, mudah marah, atau enggan berangkat sekolah, misalnya, mungkin sedang mengalami sesuatu yang belum mampu mereka ungkapkan secara langsung.
Karena itu, orang dewasa perlu menghindari sikap terburu-buru dalam menghakimi perilaku anak. Sebaliknya, orang tua, guru, dan lingkungan sekolah perlu membangun komunikasi yang aman agar anak merasa didengar, dipercaya, dan mendapatkan dukungan.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah pendekatan DENGAR, yakni langkah respons awal ketika anak menceritakan pengalaman menyakitkan, termasuk dugaan perundungan.
DENGAR merupakan akronim dari enam langkah. Pertama, Dengarkan, yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita tanpa memotong pembicaraannya. Kedua, Empati dan Percaya, yakni menunjukkan kepedulian serta memberi ruang agar anak merasa nyaman menyampaikan pengalamannya.
Ketiga, Nyatakan Bukan Salahnya, yaitu meyakinkan anak bahwa dirinya tidak pantas disakiti atau diperlakukan secara buruk. Keempat, Gali Keamanan, dengan mencari tahu apakah anak merasa aman dan bantuan apa yang dibutuhkan saat itu.
Kelima, Ambil Langkah, yakni melibatkan pihak yang tepat agar anak memperoleh bantuan dan penanganan. Keenam, Review, yaitu memantau kembali kondisi anak setelah mendapatkan penanganan.
Pendekatan tersebut menekankan bahwa penanganan perundungan tidak berhenti pada saat anak berani bercerita. Dukungan dan pemantauan lanjutan juga diperlukan agar keselamatan serta kondisi anak tetap diperhatikan.
Webinar ini diikuti delapan mahasiswa, yaitu Fauziatul Khoeriah, Riris Fatimah Nur Jannah, Elsa Lusiana, Dinar Febrianti, Muhammad Elka Fikri Alamsyah, Rony Wahyudi, Rizki Rahma Kusuma, dan Natana Aunillah Naya.
Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa menghentikan perundungan membutuhkan kepedulian bersama. Anak perlu didengarkan tanpa dihakimi, dipercaya ketika menyampaikan pengalaman, dan dibantu melalui langkah yang tepat.
Sebab, di balik perilaku yang berubah, bisa jadi ada persoalan yang belum mampu disampaikan anak. Mendengarkan dengan empati menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan yang lebih aman, peduli, dan bebas dari perundungan.






